ESQ dan Ary Ginanjar Agustian Sesat? Baca Dulu Artikel Ini Sepenuh Hati

Menjawab Dugaan ESQ dan Ary Ginanjar Sesat, benarkah?

Sebelum menduga ESQ & Ary Ginanjar Agustian itu sesat, coba baca dengan baik artikel ini lalu berpikirlah secara jernih & hati yang lapang.

Akhir-akhir ini cuaca memang kurang begitu bersahabat. Hujan yang turun hampir setiap hari mengakibatkan beberapa lokasi mengalami genangan air yang cukup tinggi, bahkan banjir. Suka tidak suka, kondisi ini membuat sekitar kita tampak semakin kotor. apalagi kalau malas membersihkannya. Termasuk juga kendaraan kita.

Namun justru banyak di antara kita yang malas mencuci kendaraan saat musim hujan seperti ini, alasannya macam-macam, mulai dari merasa percuma-lah, rugi-lah, takut kotor lagi karena masih musim hujan, hemat biaya, dan berbagai alasan lainnya.

Di kala musim kemarau pun kendaraan tak kalah kotor dengan debu yang menempel. Kendaraan yang jarang dibersihkan membuat debu dan kotoran terus melekat. Jika tidak dibersihkan dalam jangka waktu yang cukup lama, dapat dibayangkan bagaimana kotor dan hitamnya, tentu semakin sulit untuk dibersihkan. Bahkan kotoran yang dibiarkan akan dapat merusak warna dan permukaan kendaraan sehingga menjadi kusam bernoda.

Ary Ginanjar Sesat?

Nah…seperti itupula hati kita. Setiap hari hati kita banyak terpapar dengan debu dan kotoran yang berasal dari pikiran, kata-kata, pendengaran, prasangka, pandangan dan tindakan. Bayangkan apabila kita malas untuk membersihkannya, maka setiap hari kotoran dan debu itu akan terus melekat, bertambah banyak dan membuat hati kian kusam.

Lama kelamaan kotoran itu membuat hati menjadi gelap, keras, dan membatu. Ini tentu saja akan membuat hati semakin sulit untuk dibersihkan.
‘Dosa itu ibarat sebuah noktah hitam yang melekat di hati. jika kita terus melakukan dosa, maka nokta-noktah hitam itu akan semakin mengotori hati, lama kelamaan hati kita menjadi hitam’ (HR. Ibnu Majah)

Benarkah ESQ dan Ary Ginanjar Agustian Sesat? Coba Jernihkan Hati (Zero Mind)

Dr. Ary Ginanjar dalam bukunya Rahasia sukses membangun kecerdasan emosi dan spiritual; The ESQ Way 165, mengajak kita untuk senantiasa membersihkan hati setiap hari, sesering mungkin, melalui zero mind process (proses penjernihan hati).

Zero-mind process merupakan proses pembersihan alam bawah sadar dari belenggu-belenggu yang akan selalu datang seiring dengan perjalanan hidup manusia, hari demi hari, jam demi jam, bahkan detik demi detik.

Dalam kehidupan sehari-hari, bentuk zero-mind process bisa kita temukan dalam aktivitas seperti doa, sholat, yoga, atau meditasi.

Itu sebabnya, doa, sholat, yoga, ataupun meditasi hanya akan berdampak apabila dilakukan berulang-ulang (the magic of repetition), mengingat hati kita dapat terkotori oleh belenggu setiap saat.

Hasil akhir dari zero-mind process adalah seseorang terbebas dari belenggu-belenggu: prasangka negatif; prinsip-prinsip hidup yang menyesatkan; pengalaman yang mempengaruhi pikiran.

Ketika mencapai tahap zero-mind, artinya hati dan jiwanya telah bersih dari kotoran dunia, maka seseorang telah siap menerima cahaya ketuhanan dan mengeluarkan energi positif untuk kebaikan dirinya dan orang lain.

Baca juga:

Kisah Inspiratif – Belajar Loyal Dari Singa

Pentingnya Kata Kata Bijak dalam Membuka Pikiran dan Hati Seseorang

Bagaimana Zero Mind Berlangsung?

Untuk melatih diri memiliki Pola Pikir yang jernih (Zero Mind) guna membersihkan debu dan kotoran di hati, maka hendaklah kita:

1. Senantiasa berpikir positif pada segala aspek; sehingga timbul budaya optimis.
2. Terhindar dari berprinsip pada selain Allah Yang Maha Abadi,
3. Membebaskan diri dari pengalaman-pengalaman yang membelenggu pikiran, senantiasa berpikir merdeka. Karena pengalaman terkadang dapat membatasi cakrawala berpikir seorang, akibatnya ia akan melihat sesuatu secara subjektif.
4. Mendengarkan suara hati, dan senantiasa berpegang pada prinsip karena Allah, dan akan berpikir melingkar (mempertimbangkan segala aspek) sebelum menentukan prioritas.
5. Melihat semua sudut pandang secara bijaksana.
6. Memeriksa pikiran sebelum menilai segala sesuatu, sehingga tidak melihat sesuatu sesuai dengan pikiran, akan tetapi akan melihat sesuai apa adanya.
7. Tidak terbelenggu oleh bermacam-macam literatur yang telah mengisi otak sebelumnya. Sehingga senantiasalah untuk berpikir merdeka dan akan mengembalikan segala urusan pada Pemilik Alam dan menjalankan segala perintah-Nya.

‘Sesungguhnya dalam diri manusia itu ada segumpal daging, bila ia baik maka baiklah seluruh jasad, bila ia rusak maka rusaklah seluruh jasad dan segumpal daging tersebut bernama ”HATI” (HR. Bukhari)