Khutbah Jumat Membangun Mental, Menjaga Moral

Khutbah Jumat – Hadirin jamaah Jum’at yang terhormat Marilah bersama berusaha meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt dalam  arti meningkatkan kesungguhan kita dalam melaksanakan perintah Nya dan dalam menjauhi segala larangan-Nya. Mudah mudahan kita senantiasa termasuk golongan hamba yang mendapatkan petunjuk dijalan-Nya Amin.

Hadirin rahimakumullah, Dewasa ini, pembangunan di negara kita telah mencapai kemajuan yang demikian pesat seiring dengan itu, marilah kita umat Islam secara bersama-sama ikut ambil bagian dengan lebih aktif lagi, lebih-lebih dalam pembangunan mental spiritual, agar umat Islam tidak sekedar maju dalam segi fisik saja, namun juga kokoh mentalnya, tidak mudah terjebak dalam pola pemikiran yang merusak sebab kita bahwa perjuangan Rasulullah Saw.

Perjunngan yang mengarah pada totalitas manusia. Beliau telah berjuang menanamkan nilai-nilai moral Islam di samping perjuangan untuk kemajuan bangsa. Hal ini perlu saya ketengahkan dalam kesempatan kali ini, karena disinyalir, akhir-akhir ini terjadi kesenjangan antara pembangunan fisik dengan pembangunan mental. Kita dapat melihat banyak terjadinya kasus-kasus sosial maupun budaya melalui berbagai media, cetak maupun online yang tidak bisa kita antisipasi dan kita tangkal.

Sebelum saya ketengahkan pembahasan ini lebih lanju terlebih dahulu kita pelajari apa sebenarnya penyebab atau pemicu yang akibat terjadinya kasus-kasus tersebut? Kalau kita kembali pada sejarah sebenarnya yang terjadi pada akhir-akhir ini tidak merupakan masalah baru. Pada zaman Rasulullah SAW berbagai peristiwa serupa sudah sering terjadi. Bangsa Arab di mana beliau diutus, pada waktu itu dikenal sebagai bangsa Jahiliyah, bangsa yang bodoh.

Tetapi bukan berarti bodoh dalam pengertian tertinggal, melainkan sebagai bangsa yang tidak memiliki budaya dan moral. Perjudian, perkosaan, pertumpahan darah, perampokan dan pemerasan merupakan peristiwa biasa. Pada waktu itu minuman keras, penyembahan berhala dan pelanggaran hak-hak azasi manusia adalah warna budaya, mereka juga tidak mengenal hukum. Siapa yang kuat, itulah penguasa, sementara yang lemah harus rela menjadi budak.

Fenomena tersebut paling tidak disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya:

1). Mereka tidak memiliki landasan akidah yang lurus.

2). Tidak adanya moral agama yang dipakai sebagai landasan hukum, dan

3). Tidak adanya kepemimpinan yang adil Hadirin yang dimuliakan oleh Allah Manusia, tanpa memiliki akidah yang lurus, akan cenderung bertindak tanpa pertimbangan.

Kecenderungan hawa nafsu akan menguasai tanpa mengenal batas, Karena mereka tidak pernah mengerti bahwa segala perbuatan yang itu ada balasan yang setimpal setelah mereka mati. Singkatnya mereka tidak mengenal alam akhirat, tidak mengenal adanya kehidupan setelah mati. Hal tersebut terlihat dari ayat-ayat yang turun pada awal Risalah beliau, yang dikenal dengan hampir seluruh isinya adalah tentang akidah. Setelah penanaman akidah,dan Rasulullah SAW telah berhasil, kondisi umat pun berubah menjadi umat yang mengenal Tuhan secara benar. Maka tahapan selanjutnya dan ditanamkan oleh beliau tentang tatanan hidup manusia.

Hal tersebut juga tampak dalam ayat Al-Quran yang turun disebut dengan istilah Madaniyyah, Ayat-ayat Al-Quran dalam kategori berisi tentang ketentuan-ketentuan yung harus dipatuhi oleh manusia dalam kaitannya sebagai makhluk sosial.  Dengan kata lain, berisi tentang bagaimana semestinya umat manusia yang berhubungan dengan lingkungannya.

Khutbah jumat singkat lengkap dengan doa

Hadirin jamaah salat Jum’at yang terhormat Di samping dua faktor di atas, ada satu lagi faktor penentu yang tidak boleh ditinggalkan, yakni kepemimpina. Telah dilakukan oleh beliau dengan berperilaku sebagai pemimpin yang adil. Dan Beliau mengajarkan kepemimpinan secara konsekuen hidup di dunia baik tentang tata cara manusia menjalani dalam kaitannya sebagai hamba Allah maupun manusia. Beliau mengajarkan Al Quran kepada umatnya dan beliau sebagai orang pertama yang memberikan contoh dalam pergaulan atau berhubungan dengan sesama maupun makhluk lainnya. ketika Sebagaimana pernyataan Sayyidah Aisyah ra. beliau ditanya tentang perilaku Rasulullah Saw

Juga tercermin dalam salah satu ayat Al-Quran:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. Al-Ahzab: 21)

Berpijak dari paparan di atas, kita dapat menarik kesimpulan bahwa kondisi akhir-akhir ini harus diatasi dengan peningkatan penanaman nilai-nilai moral agama, agar kesadaran beragama dimasyarakat bisa ditingkatkan kembali. Sehingga tidak terjadi letupan- letupan yang dapat membahayakan dan hal ini harus melibatkan secara aktif seluruh lapisan masyarakat, perembesan kejadian-kejadian yang tidak dinginkan dapat dicegah secara dini. Tak lupa pula, kita harus senantiasa berdoa, memohon kepada Allah Yang Maha Kuasa. Mudah-mudahan kita diselamatkan dari segala cobaan hidup, Amin.